Kamis, 09 Juni 2016

Ders oleh Shaykh Umar Vadillo di Kuala Lumpur, Malaysia, 26 April 2015

BismillahirRahmanir Rahim. Assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Tujuan dari kumpulan ini, tujuan dari Tariqa, tujuan dari datang bersama, adalah pengetahuan Allah. Itulah tujuan dari setiap murid untuk berjuang untuk mendapatkan pengetahuan ini. Dengan segala cara. Dan salah satu dari sekian banyak cara itu adalah datang bersama dan berkumpul bersama orang-orang yang mengingatkannya akan Allah, subhanahuwa ta'ala. Ini adalah salah satu syaratnya.

Yang kedua dan yang terpenting adalah meningkatkan hasrat akan pengetahuan. Artinya membuat diri Anda menjadi pengingat pengenal, motivator, dari pengetahuan yang dalam. Pengetahuan Allah adalah yang terpenting dari semua pengetahuan. Itu adalah sumber dari semua pengetahuan. Dari pengetahuan Allah datanglah semua pengetahuan lain. Semua yang lain. Pengetahuan Allah dalam hubungannya dengan semua pengetahuan lain adalah laksana seseorang yang sedang duduk di dalam sebuah ruangan tetapi dia betul-betul tertutup selimut, dan dia hidup di bawah selimut ini. Dan pengetahuan, dan pancainderanya dan pengalamannya adalah apa yang dia rasa di bawah selimut ini. Dan kemudian dia berkata “apa itu pengetahuan Allah?” dan karena keadaannya, dia mencoba mencari pengetahuan Allah dari apa yang ada di dalam selimutnya. Jadi dia mulai mengasosiasikan dari apa yang dia alami, dan dari apa yang dia ketahui, dan mencoba membuat deskripsi mengenai apa itu Allah. Dan dalam beberapa contoh, dia berkata “Dia tidak ada, yang ada hanya dunia di mana saya tinggal”.

Anda dapat melihat dari perumpamaan ini bahwa pengetahuan Allah bukanlah melakukan perjalanan ke manapun dari dunia yang kecil ini. Tetapi menyingkapkan selubung yang berisi dunia ini. Anda harus mengangkat selimut ini. Dan kemudian ruangan itu ada di sana, pengetahuan itu ada di sama. Dari dalam penutup ini ada hal-hal yang tidak mungkin dipahami. Karena dia tidak memiliki akses kepada hal-hal itu. Dia tidak dapat mengerti. Dia tidak dapat mengerti bahwa ini adalah di depan rumah. Dia tidak dapat mengerti jendela. Dia tidak dapat mengerti AC atau lampu.

Hal-hal yang hanya dapat dipahami dari luar selimut. Karena Realitas adalah jauh lebih besar, dengan tidak terbatas lebih besar dari kecilnya dunia di mana dia tinggal, Mulk. Dunia yang sungguh kecil. Kita tinggal di sini tetapi kita jauh di dalam penjara. Bukan sekedar dunia biasa, atau selimut tua biasa. Itulah dunia yang Allah subhanahu wa ta'ala telah rancang. Ada maknanya. Bukan serampangan. Tertata. Kita hanya tidak memahaminya. Dan tidak mungkin untuk menemukan pemahaman dari dalam batasan ini, Anda hampir saja mulai menyekutukan, dengan menggambarkan hal-hal yang tidak Anda mengerti kepada-Nya.

Anda dapat melihat dari perumpamaan ini bahwa pengetahuan bukanlah mengejar atau pergi ke suatu tempat – kita sudah di situ, kita ada di dalam ruangan ini, kita sudah dikelilingi oleh pengetahuan ini, kita tidak harus pergi ke manapun. Semua yang harus kita lakukan adalah menyingkap selubungnya. Dan penyingkapan selubung ini adalah urusan kita, itulah yang kita lakukan. Pembongkaran seperangkat realitas dari dalam tempat yang kita tinggali.

Ibnal-Arabi berkata, “dunia ini adalah ilusi.” Itulah ilusi. Seperti hologram. Mewakili sebagian realitas yang merupakan sebuah gambar, tetapi tidak seterusnya. Tidak ada satu hal pun dari realitas ini yang memiliki keberlanjutan, artinya terus-menerus. Itu hanyalah gambar yang hanya merefleksikan persepsi kita dari dalam rentang yang sangat pendek, kita hanya mengalami hanya sedikit waktu. Bahkan umat manusia hanya memiliki waktu yang sangat sedikit di dunia ini, dan yang terang kita menanyakan, yang lebih terus terang kita sadari kita ketahui jauh lebih sedikit. Untuk setiap waktu yang kita dahulukan dalam pengamatan, hanyalah menambah tanda tanya. Lebih jauh kita melihat, makin kita sadari bahwa kita tidak mengetahui apapun.

Ini adalah dunia di mana kita tinggal. Ini ada dalam selubung di mana kita dilemparkan ke dalamnya. Itu adalah dunia yang diberkahi, ini adalah realitas komplit. Itu adalah sebuah dunia yang penuh dengan tanda-tanda/petunjuk-petunjuk. Tinggal di bawah selimut. Sufi telah berkata, adalah tinggal dalam kegelapan. Melihat adalah untuk melihat, ke manapun Anda melihat, Wajah Allah. Itulah melihat. Ini adalah Cahaya. Jika Anda melihat sekeliling dan Anda tidak mengingat Allah, Anda buta. Dan itu adalah kegelapan. Segala sesuatu yang mengingatkan Anda akan Allah adalah Cahaya dan ini adalah pengetahuan. Pencarian dari urusan ini dari membuka selubung datang dari bagian dalam, dan juga dari bagian luar. Satu adalah pengetahuan haqiqa-kesadaran hati dan pengelolaan hati. Bukan sebatas mengikuti hati tetapi menjadi sadar akan hati, meningkatkannya, memurnikannya, dan kemudian mengelolanya. Tuntunlah ia. Seperti halnya Anda menggerakkan otot, Anda menggerakkan hati Anda dan Anda dapat membersihkannya dan kemudian Anda mengarahkannya. Itu adalah satu bagian dari urusan. Urusan lainnya adalah Shari'ah. Keduanya sama penting.

Bisikan apapun yang mengatakan bahwa the Sufi entah bagaimana atau lain hal tidak memerlukan Shari'ah, atau tidak peduli mengenai Shari'ah, adalah tidak benar. Jika Anda mendengar ini dari seseorang, maka Anda tahu Anda sedang mendengarkan seorang dukun klenik. Karena Shariah memiliki signifikansi yang sangat istimewa bagi para Sufi, bahkan lebih tinggi untuk 'ulamah, karena mereka hanya melihat benar dan salah, tetapi kita melihat sesuatu dengan berbeda. Kita melihat kesempatan, tantangan, jalan, metode, kesempatan untuk membersihkan hati di bagian Shari'ah yang kita temukan sulit, sedangkan 'alim akan menemukan di dalamnya ketidakmungkinan, mereka akan mencoba untuk mengelilinginya, atau menemukan alasan-alasan. Tetapi Sufi, tidak seperti yang lainnya, dia berkata,“ini adalah kesempatanku, karena di dalam kesulitan ini saya dapat melihat diri saya sendiri”. Karena setiap kali Anda mengamati diri Anda sendiri ini adalah sebuah ilusi. Setiap kali Anda melihat makhluk, itu adalah sebuah ilusi. Satu-satunya cara untuk membuka mata adalah mengetahui bahwa Anda diamati. Anda bukan pengamat di dunia ini. Tidak seorangpun memberikan Anda otoritas itu. Anda tidak berada di sini untuk menghakimi, Anda ada di sini untuk dihakimi. Anda bukanlah pengamat, Anda adalah yang diamati. Anda harus tahu bahwa segala sesuatu berada dalam pandangan Allah subhanahu wa ta'ala, sehingga Anda ada di sini untuk diuji. Ketika Anda memperoleh kehadiran-Nya dalam cara ini, ketika Anda menyadari Anda adalah yang diukur, ketika mata Anda terbuka, pada titik itu ilmu pengetahuannya disebut Ihsan. Dan itu adalah ilmu pengetahuan dari pengetahuan. Itu adalah ilmu pengetahuan Sufisme. Tidak masalah berapa kali Anda telah mendengar apa yang baru saja saya katakan, ada yang lebih dalam dari itu. Semakin Anda rasakan urusan ini , makin banyak Anda akan belajar. Makin jauh Anda akan masuk ke dalam ini, makin banyak Anda akan belajar karena tidak ada habis-habisnya keuntungan dalam hal ini. Sifat alaminya akan membawa Anda pada kemusnahan mutlaq. Jika Anda cukup berani, cukup berani untuk menjalani semua melalui apa yang pengetahuan ini bukakan untuk Anda, karena akhirnya si-bukan-pengamat tiba di pintu kemusnahan dari semua atribut-atribut Anda. Dan ketika semua atribut musnah, maka semua selubung musnah, karena selubung tidak lagi mempunyai tempat untuk berpegang. Selubung bangkit sendiri. Allah tidak membangkitkan selubung, KITA yang membangkitkan selubung. Sehingga penghilangan dari selubung-selubung itu adalah sebuah urusan yang semuanya tumbuh pada pengetahuan Ihsan ini.

Shari'ah bagi kita adalah tantangan, sebuah kesempatan, sebuah urusan cinta. Sebuah urusan cinta karena di dalam hal-hal yang tampak tidak mungkin bagi orang lain, Sufi berkata “Keuntungan yang besar! Jika yang lain tak seorangpun dapat melakukan itu maka sungguh suatu keuntungan yang besar!” Jika sulit padaku maka sungguh keuntungan yang besar. Jika hal ini akan menolong banyak orang, maka sungguh suatu keuntungan yang besar. Dia tidak melihat kesulitan-kesulitan, dia melihat keuntungan-keuntungan. Karena dia dalam pencarian pengabdian kepada Allah dengan kemungkinan besar ini. Allah telah memberi kita Shari'ah sebagai sebuah model standar, itu adalah sebuah rahmat, itu bukanlah sebuah hukuman, itu adalah panduan, sebuah jalan. “Kemarilah, anak-anakku, lewat sini. Ini adalah jalannya. Kemarilah dan kalian akan menemukan keseimbangan dan kebijaksanaan.” Dunia dalam keadaan terbalik, ketika ia datang kepada Shari'ah. Karena bukan hanya penerapannya yang hilang, lebih dalam lagi terkubur, pengetahuannya telah hilang.

Kita tidak memilih zaman ini, Allah yang telah meletakkan kita di zaman ini. Kita memiliki sebuah tantangan di hadapan kita. Dan dalam tantangan ini ada kurnia yang besar. Pencari Allah tidak dapat menunggu datangnya kesempatan kepada keuntungan karena dia haus akan Allah. Jika sebuah kesempatan tiba yang mana dia dapat maju satu inchi, dia tidak akan melewatkannya. Karena ini adalah tujuan hidupnya. Mendekat, dan makin dekat. Bagaimana bisa kita melupakan kurnia besar yang ditawarkan kepada kita oleh Shari'ah dilupakan oleh orang ini? Dan bagaimana bisa Anda berfikir bahwa orang ini akan mengerjakan bagi orang lain, yang tersulit, bagaimana Anda berfikir orang ini akan menghadapinya? Apa yang menjadi keraguannya? Apakah Anda berfikir keraguannya akan menjadi “apa yang orang lain akan pikirkan?” atau “mungkinkah ini adalah sebuah urusan yang saya tidak punya cara untuk selesaikan?”

Tidak satupun dari hal-hal di atas akan berarti baginya. Bukan apa yang orang lain akan katakan. Bukan mengenai besarnya hal tersebut, tetapi hanya bagaimana menyenangkan Allah, subhanahu wa ta'ala. Ini adalah satu-satunya perhatiannya. Yang menjadi sarana bukanlah perhatiannya karena dia sudah menyadari bahwa bahkan jika dia seribu kali lebih besar, dan seribu kali lebih kuat, dan seribu kali lebih bijaksana, dia masih tidak akan dapat bergerak satu inci. Karena tidak ada apapun yang dapat berdiri kecuali ada izin Allah,subhanahu wa ta'ala.

Bukanlah tugas kita untuk melakukan, tugas kita untuk berjuang dan melayani. Kita melemparkan perhambaan kita, dan kita melemparkan keberanian kita dan kita melayani, tetapi kemenangan milik-Nya dalam setiap hal yang bernilai karena Dia tidak memiliki rasa kecuali kemenangan.Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Karena dia adalah penentu dari Realitas dan Haqq- semuanya jadi satu pada-Nya. Dan pada saat Anda memahami hal ini, kemudian Anda hanya dapat bertindak, kemudian Anda hanya bebas untuk bertindak. Terbebaskan lagi bukan hanya dari selubung yang dengannya Anda menemui keberadaan tetapi selubung di dalam diri Anda yang menghentikan Anda dari bertindak, mengulangi apa yang kuffar dalam masyarakat paksakan pada Anda untuk dilakukan. Dan Anda bergerak dengan bebas, dari dalam.Sehingga Anda dapat menjadi orang bebas dari hal-hal yang nyata: nyata bagi orang yang bebas.

Tantangan besar bagi masyarakat ini adalah biang keladi riba. Orang-orang yang tidak melihatnya, itu karena mereka buta. Itu, setelah shirk, masalah terbesar. Allah, subhanahu wa ta'ala, telah mendeklarasikan perang pada hal ini. Dan ini pada titik ini, ketika Anda mendengar Allah mendeklarasikan perang pada hal ini, Anda menggigil gemetar di dalam, dan Anda harus mendeklarasikan di dalam diri Anda secara ikhlas, “Aku bersama-Mu”, karena tidak ada keberhasilan dalam hasil, tidak ada keberhasilan selain dari berjuang bersama Allah. Tidak bahkan untuk sedetikpun.

Dan siapapun yang tidak berfikir seperti ini adalah buta. Dan banyak orang di jaman ini yang tidak melihatnya. Dan itu adalah tugas kita untuk mengatasi kesulitan-kesulitan dan membimbing orang-orang yang buta. Dan kita lakukan. Di antara hal-hal yang mengedepankan persoalan ini bukan hanya larangan riba tetapi juga apa yang Allah telah deklarasikan halal. Karena tidak mungkin bagi Anda mengobati sakit tanpa memahami sehat.Dan ini adalah mu'amalat.

Setiap orang harus mengetahui mu'amalat. Setiap orang harus mengetahui definisi riba. Tetapi 99.99% dari 'ulamah tidak mengetahui apa itu riba. Dan ini sangat mengejutkan sehingga perlu diuji untuk disadari. Merakyatlah dan tanyai mereka, “apa itu riba?” dan Anda akan melihat bahwa kalau mereka tidak menjawab “bunga” mereka akan menjawab tidak jelas karena mereka tidak memiliki gambaran dari definisi klasik yang jelas dari persoalan tersebut. Dan tanpa kecuali mereka tidak mampu memberi Anda perkiraan apapun mengenai bagaimana penyelesaiannya. Karena hal ini telah menjadi bahasan yang tabu untuk dibicarakan. Mengapa? Karena membicarakan ini menjadi hal yang paling tidak nyaman. Karena tidak seorangpun Mufti di negeri ini dapat nyaman ketika tahu bahwa mereka membiarkan yang haram dari yang haram. Tidak seorangpun 'alim yang dapat nyaman mengetahui bahwa mereka diam saja mengenai apa yang membunuh kebanyakan Muslim, apa yang merebut deen dari kita, apa yang membolehkan kuffar mendominasi masyarakat kita. Mereka akan merasa tidak nyaman jika mereka tahu. Sehingga mereka lebih suka untuk tidak melihat masalah itu. Mereka telah memilih untuk menaruh lebih banyak selubung di atas urusan-urusan mereka. Dan sungguh sangat disayangkan. 'Ibadat dan mu'amalat. Orang-orang rusak yang di awal abad ke-20, sekelompok individu free masonik dari Mesir, menggemakan freemasons dari Turki sehingga mereka bekerja menggerogoti Daulah Usmani, dengan mendirikan konstitusi. Kelompok ini dikenal sebagai “Ottoman Muda” dan mereka menjadi “Turki Muda”,kelompok ini ditiru di keseluruhan 'ummah, ada “Tunisia Muda”, “Algeria Muda” dan “Mesir Muda”, semuanya mengikuti penghasut Irlandia Muda, organisasi free masonik, seolah-olah itu adalah kelompok menakjubkan yang hidup di barat. Dan mereka mempromosikan Humanisme. Humanisme diwakili oleh konstitusionalisme.Konstitusionalisme adalah sekularisme. Dan sekularisme serta konstitusionalisme menemukan dukungan dari kapitalisme yang mengatakan “hanya lewat sekularisme riba dapat dibuat halal”. Hanya dengan menghilangkan kekuatan normatif dari agama riba akan merajalela. Dan itulah sebabnya mengapa perbankan memeluk konstitusionalisme. Itulah sebabnya mengapa perbankan memeluk sekularisme. Dan dalam usaha menghipnotis massa secara keseluruhan, mereka merubah agama. Ini adalah usaha sadar untuk mereformasi. Yang dibangun di atas kata “ijtihad”, mereka merubah makna kata ijtihad, dan sebagai ganti sebuah metode dalam fiqh, menjadi “islah”- transformasi. Lihatlah persoalan riba untuk memahaminya. Itulah semua hal yang diperlukan untuk membuat riba menjadi halal. Semua faktor lain adalah sekunder. Apa yang mereka lakukan dengan pendidikan, bagaimana mereka merubah metodologinya, tanpa madzhab, bahkan konstitusi itu sendiri, semuanya menangguhkan status keharaman riba. Inilah inti permasalahan.

Dan mereka berkata “'Ibadat tidak dapat berubah, tetapi mu'amalat dapat berubah”. Itulah aqidah mereka. Sehingga mereka secara menyeluruh merubah mu'amalat, mereka berkata dapat dimodifikasi. Tetapi riba tidak dapat dimodifikasi. Riba adalah haram, selamanya. Deklarasi dari Allah. Sekarang dan selamanya. Selama masih ada dunia, Perintah-Nya berlaku.

Masyarakat yang muncul setelah Perang Dunia II adalah masyarakat konstitusional. Muslim mendapati diri mereka di dalam penjara yang mereka tidak dapat mengerti. Menjual hal ini adalah mudah, mereka mengatakannya “merdeka” dan “kebebasan”, sebuah gerakan kemerdekaan yang kenyataannya Muslim tidak sadari bahwa mereka bergerak ke dalam perangkap yang lebih besar. Sistim ekonomi dunia yang mana mereka menjadi warga negara kelas tiga, bahkan bukan warga negara kelas dua. Dan di bawah keadaan ini, Islam tumbuh di dalam penjara sambil terus memperkuat dinding penjara. Itulah sebabnya mengapa orang-orang benar-benar diam mengenai persoalan riba. Dan inilah penjelasan mengapa mayoritas terbesar 'ulamah sekarang tidak dapat memberi Anda definisi akurat mengenai apa itu riba.

Tetapi waktunya telah tiba bagi kita untuk bertindak. Dan bertindak dalam urusan ini adalah mengedepankan dan menunjukkan solusi. Solusi berdasarkan Kebenaran, dan Kebenaran didukung oleh setiap aspek dari Allah. Anda dapat mengambil aspek apapun dari Shari'ah dan jika Anda menariknya, Anda membawa kembali keseluruhan sistimnya. Benar-benar berlawanan dari sebuah dusta. Sebuah dusta di bangun di atas dusta, dan jika Anda menarik satu urutannya, keseluruhan gedung akan runtuh. Keseluruhannya mudah pecah. Lebih besar dustanya, lebih mudah pecahnya. Tetapi kebenaran adalah lawannya. Sehingga urusan kita sangat mudah, jika kita membuka mata. Dan dengan gerakan halus yang kecil Anda dapat mengubah segala sesuatu. Kehendak Allah adalah seperti ini. Dia merubah dunia dengan gerakan yang hampir tidak dapat dikecap oleh panca indera. Setiap orang berkata mereka ingin bertindak dengan kekuatan, mereka ingin menjadi raja dan ratu yang berkuasa untuk merubah dunia tetapi tidakkah Anda berfikir “latif” dapat membawa Anda lebih jauh? Tidakkah latif dan Qudra hal yang sama? Jadi bagaimana mengenai perubahan latif?

Kami ingin memperkenalkan sebuah perundang-undangan yang halus tetapi mengubah segalanya. Kami ingin memasukkan kata “dinar emas” ke dalam perundang-undangan. Ketika perundang-undangan dari setiap negara menyebutkan kata “dinar emas” ia akan memiliki definisi legal. Dan pada saat definisi legalnya diterapkan, mencetak menjadi wajib. Dan untuk memperoleh nilai maka menjualnya menjadi wajib. Dan pada saat dinar emas telah menemukan maknanya pada Shari'ah, kami akan mendatangi Bank Sentral, dan hari itu akan menjadi tamatnya riwayat Bank Sentral. Hal kecil itu cukup.

Kami telah memilih persoalan nisab untuk mengedepankan persoalan-persoalan ini. Karena nisab adalah hal yang tidak ada kontroversi di dalamnya, tidak diperlukan ijtihad, tidak ada fatwa hukum, seperti halnya orang berkata qibla adalah Makkah. Nisab adalah 20 dinar atau 200 dirham. 20dinar. Perlu dijelaskan. Sebagai ganti 20 dinar, apa yang dikatakan adalah 20 mithqal, dan orang menghitung nilai 20 mithqal seolah-olah itu adalah 20 dinar, tetapi ini salah.

Karena mithqal adalah satuan berat, bukan nilai. Mithqal dari emas betul-betul berbeda dari dinar. Sama beratnya, tetapi berbeda nilainya. Itulah sebabnya nisab adalah 20 dinar atau 200 dirham. Dan 1 banding 10 ini masih tetap menjadi nisab zakat. Berdasarkan nilai identik, bukan berat identik. 20 dinar merujuk kepada koin, sementara emas dapat berupa apapun. Imam Maalik berbicara mengenai persoalan ini dengan jelas. Jika Anda punya mata maka Anda dapat memahaminya. Anda punya tibr, Anda punya dinar, dan Anda punya perhiasan. Nilai dari perhiasan adalah independen terhadap berat. Anda punya sebuah vas, beratnya hanya sepuluh mithqal, harganya bisa jutaan. Anggaplah vas punya Sultan Fatih. Beratnya kecil tapi nilainya luar biasa. Jika Anda berdagang dengan barang-barang ini, dan bukan perhiasan yang Anda gunakan, tetapi sesuatu yang dengannya Anda berdagang, yang dengannya Anda menyimpan nilai, Anda harus membayar zakat atasnya. Bahkan walaupun Anda belum mencapai mithqal. Dalam nilai Anda telah melampaui 20 dinar. Dan hal yang sama berlaku pada tibr. Apapun yang bukan perhiasan berupa serbuk emas, serpihan emas, emas batang yang dimurnikan, emas lebur- apapun yang selain perhiasan dan dinar, adalah tibr.

Dan tibr, secara alami, memiliki nilai DI BAWAH dinar. Jadi Anda bisa mengalami keadaan ketika Anda punya serbuk emas melebihi berat 20 mithqal namun Anda tidak harus membayar zakat. Karena nilainya tidak mencapai 20 dinar. Karena tibr adalah materi, karena tibr bukanlah dinar, 20 DINAR. Jika beratnya melebihi 20 mithqal kemudian Anda mengambil 1/40, inilah sebabnya kenapa orang salah, hanya ketika NILAI mencapai 20 dinar.

Hal-hal ini, pengikut Imam Hanafi melakukan kesalahan pada hal ini, dan hampir setiap orang membuat kesalahan mengenai hal-hal ini karena hanya penganut Maliki yang memiliki Imam Maalik sebagai suara. Jika Anda mendasarkannya hanya pada hadith Anda akan tersesat. Tetapi 'amal dari 'ahl Madina adalah apa yang Anda perlukan. Imam Maalik berkata, “yang berlaku di antara kami adalah bahwa ketika Anda punya tibr dan perhiasan, Anda tidak perlu menimbangnya”. Tidak harus menimbangnya bermakna nilainya independen dari berat, tidak bisa lebih jelas lagi dari itu. Dan jika independen dari berat artinya kesemuanya itu bukan dinar, dan nilainya berbeda. Mengapa? Karena itu hal yang logis. Perhiasan memiliki nilai tambah di atas emas. Secara logis lebih mahal daripada emas, sebaliknya tidak seorangpun yang akan bekerja sebagai tukang pembuat perhiasan, karena Anda membuat perhiasan tapi nilainya sama seperti emas.

Jadi perhitungan 20 mithqal berdasarkan harga emas di COMEX atau London Fixing atas 85 gram emas adalah benar-benar salah. Karena dinar memiliki nilai yang berbeda dengan tibr. Bagaimana Anda tahu? Baik, jika Anda tidak duduk di belakang meja membuat fatwa atas sesuatu yang Anda tidak ketahui dan benar-benar mencoba mencetak sekeping dinar emas, dengan kata lain jika 'amal Madina menjadi realitas bagi Anda, maka Anda akan paham bahwa untuk mencetak sekeping koin ada biayanya. Dan kemudian Anda akan paham prakteknya di seluruh jaman. Dan karenanya dinar lebih mahal dari emas batangan. Tetapi hal itu hanya akan diketahui oleh orang-orang yang melakukan usaha APAPUN atau berkeinginan menerapkan hal ini. ‘Alim yang duduk di belakang meja, dan tidak pernah bergerak dari mejanya, dan hanya ada buku-buku di depannya, tidak dapat paham. Hanya orang yang mempraktekkannya yang akan paham. Dan di sini Anda memiliki bukti lain bahwa Shari'ah adalah sesuatu yang hidup, untuk dipraktekkan. Bukan kuis untuk para cendekiawan. Halal or haram? Isilah titik-titik berikut..... cara yang dilakukan kebanyakan orang saat ini. Jika Anda mencoba mencetak dinar emas Anda akan paham persoalan tibr. Coba lakukan dan Anda akan paham. Dan karenanya nisab zakat adalah 20 dinar. Semua yang kita katakan adalah “hadirkan kata dinar dalam perundangan”.Kami tidak merubah apapun. Jika Anda memperhatikan, kami kembali kepada naskah asli - 20 dinar – tetap jaga sebagai 20 dinar! Tidak dikatakan 20 mithqal, dikatakan 20 dinar. Maka marilah kita lakukan. Di manapun, bahkan di pulau terpencil di Indonesia. Jika kita membawa ini ke dalam peraturan perundangan, keseluruhan Nusantara akan mendapat manfaat. Karena kita hanya perlu satu tempat “dan di situlah tempatnya!”. Dan kemudian Anda dapat mempraktekkannya, dan kemudian Cahaya tiba dan kegelapan musnah. Karena dusta adalah lemah tetapi Kebenaran kuat. Satu benang Kebenaran menyeru kepada seluruh pelaku. Jadi ini adalah cara kita masuk ke pintu, kita dapat berkata “dinar didefinisikan oleh hukum dan diasosiasikan dengan zakat” dan kemudian segala sesuatu akan bergerak.

Menulis adalah cara memperoleh pengetahuan. Jangan hanya mendengar. Jangan pasif. Tulislah. Itulah langkah pertama. Shaykh saya selalu katakan pada saya, “tulis. Ketika kau kembali, tulis, tulis”, dan beliau akan menyuruh saya masuk ruang kerja dan berkata, “tulis. Jangan keluar, tulis”. Dan kemudian saya belajar dengan menulis, dan kemudian bertindak. Karena satu hal tidak dapat dipisahkan dari hal lain. Ketika pengetahuan datang pada Anda, Anda harus bertindak. Jika Anda tidak bertindak, maka Anda mati sebagai seorang munafik. Anda tersedak oleh kemunafikan. Anda HARUS bertindak! Bagaimana Anda tidak bisa bertindak, jika Anda telah paham?

Jadi INILAH Tasawwuf. Melihat adalah keadaan hati. Itu tidak terpisah. Tidak seorangpun Sufi yang pergi keluar dan melakukan 150.000 dhikhr mengenai ini, itu, dan selebihnya dia buta mengenai hal ini? Dia dapat melihat malaikat tetapi tidak dapat melihat permasalahan yang ada di depan hidungnya? Dia berbicara dengan Shaykh Abdul Qadir al-Jilani, dia bermimpi bertemu dengan Mahdi dan dia tidak dapat melihat permasalahan yang ada di depan hidungnya?

Tidakkah Anda melihat? Semuanya sama. Mencari pengetahuan ini dan semuanya akan mendapat besar, cahaya yang besar. Dan jika Anda bertindak dengan cahaya itu maka Anda akan menjadi wali Allah, karena hanya ada sedikit orang yang berani bertindak. Tapi lihat, lihatlah hidup. Apa itu hidup bagi kita? Tidakkah kita ingin bertempur? Dan untuk itu tidakkah kita ingin berdiri untuk-Nya, dan kita berkata “Kami berdiri untuk-Mu, kami memahami-Mu, dan kami berjuang bersama-Mu”. Apa yang lebih mulia dari itu? Bahkan jika Anda dapati seluruh dunia melawan Anda, tidakkah Anda lihat bahwa Allah bersama Anda? Gunakan hidup Anda, jangan biarkan terbuang. Mulailah lebih awal. Jangan tunggu sampai berumur 85 tahun dan Anda tidak punya tenaga. Gunakan apa yang Allah anugerahkan pada Anda. Keuntungannya di luar apa yang dapat Anda mengerti. Keuntungan yang mencapai batin dan juga lahir. Keuntungan yang tidak dapat dibeli. Tidak dapat diperoleh kecuali dengan memerangi riba di jaman ini. Bersamalah. Berkumpullah dengan orang-orang yang mengingatkan Anda tentang hal ini. Berkumpullah dan lakukan perjalanan menuju pengetahuan. Karena melakukan perjalanan menuju pengetahuan adalah tanda sebagai orang terpilih. Terlalu aneh untuk orang jaman sekarang. Mereka semua ingin pengetahuan datang kepada mereka! Seperti memanggil pizza! Tetapi Anda tidak dapat memanggil pengetahuan, Anda yang harus pergi menuju pengetahuan, karena saat Anda melangkah keluar pintu, pengetahuan telah mulai memberi Anda keuntungan. Dari sejak niyyat, keuntungan mulai datang kepada Anda.

Ini adalah urusan kita. Inilah Tasawwuf. Itulah sebabnya kita berkumpul di sini. Itulah sebabnya kita begini. Itulah sebabnya kita melakukan ini. Segala sesuatu dari Allah, oleh Allah. Perjuangan ini milik kita, tetapi Kemenangan milik Allah. SubhanaRabbika Rabbil Izzathi amma yasi foon wa salamu 'alal Mursaleen walhamdu lillahi Rabbileen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar