Jumat, 17 Juni 2016

IBNU KATSIR MENGENAI “BAGAIMANA MENGENALI SERIGALA ITU”

Diadaptasi dari Tafsir Ibnu Katsir [1] oleh Shaykh Umar Ibrahim Vadillo
Ayat Qur’an dari Tafsir Jalalayn. 
 
Qur'an menggunakan kata kufr untuk menunjukkan seseorang yang menutupi atau menyembunyikan kenyataan, orang yang menolak menerima dominasi dan otoritas Tuhan (Allāh). Ada beberapa jenis Al-Kufr ul Akbar:
 
Kufrul-'Inaad: Ketidakpercayaan yang berasal dari sikap keras kepala. Ini berlaku kepada seseorang yang mengetahui kebenaran dan mengaku mengetahui kebenaran dan mengaku mengetahuinya dengan lidahnya, tetapi menolak menerimanya dan menahan diri dari membuat pernyataan. Qur'an menyatakan:

أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ

" ("Lemparkanlah olehmu ke dalam neraka Jahanam) maksudnya, lemparkanlah, atau cepat lemparkan. Menurut bacaan atau qiraat Imam Al-Hasan lafal Alqiyaa dibaca Alqiyan. Jadi asal kata lafal Alqiyaa adalah Alqiyan, kemudian huruf Nun Taukidnya diganti menjadi Alif sehingga jadilah Alqiyaa (semua orang yang ingkar dan keras kepala) maksudnya, membangkang terhadap perkara yang hak." [2] 
 
Kufrul-Inkaar: Ketidakpercayaan yang berasal dari keingkaran. Ini berlaku kepada seseorang yang mengingkari baik itu dengan hati ataupun lidah. Qur'an menyatakan:

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ

"(Mereka mengetahui nikmat Allah) artinya mereka mengakui bahwa semua nikmat itu dari sisi-Nya (kemudian mereka mengingkarinya) karena ternyata mereka menyekutukan-Nya (dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir)."[3]
 
Kufrul-Kibr: Ketidakpercayaan yang berasal dari kesombongan. Tidak percayanya Iblis adalah contoh kufr jenis ini.
 
Kufrul-Juhood: Ketidakpercayaan yang berasal dari penolakan. Ini berlaku kepada seseorang yang mengakui kebenaran di hatinya, tetapi menolaknya dengan lidahnya. Kufr jenis ini diterapkan kepada orang-orang yang menyebut diri mereka Muslim tetapi menolak norma-norma Islam yang penting dan diterima seperti Salaat and Zakat. Qur'an menyatakan:

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

"(Dan mereka mengingkarinya) maksudnya mereka tidak mengakuinya sebagai mukjizat (padahal) sesungguhnya(hati mereka meyakininya) bahwa hal itu semuanya datang dari sisi Allah dan bukan ilmu sihir (tetapi kelaliman dan kesombonganlah) yang mencegah mereka dari beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Musa itu, karenanya mereka ingkar. (Maka perhatikanlah) hai Muhammad (betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan itu) sebagaimana yang kamu ketahui, yaitu mereka dibinasakan. "[4]
 
Kufrul-Nifaaq: Ketidakpercayaan yang berasal dari kemunafikan. Ini berlaku kepada seseorang yang pura-pura beriman tetapi menyembunyikan ketidakpercayaannya. Orang semacam itu disebut MUNAFIQ. Qur'an menyatakan:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

"(Sesungguhnya orang-orang munafik itu pada tempat) atau tingkat (yang paling bawah dari neraka) yakni bagian kerak atau dasarnya. (Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolong pun bagi mereka) yakni yang akan membebaskannya dari siksa. " [5] 
 
Kufrul-Istihlaal: Ketidakpercayaan yang berasal dari mencoba membuat HARAM menjadi HALAL. Ini berlaku kepada seseorang yang menerima sebagai Halal apa yang Allah telah Haramkan seperti mabuk atau zina. Hanya Allah yang memiliki prerogatif membuat hal-hal menjadi Halal dan Haram dan orang-orang yang berusaha mengganggu hak-Nya adalah saingan-Nya dan karenanya jatuh di luar batasan-batasan iman. 
 
Kufrul-Kurh: Ketidakpercayaan yang berasal dari membenci setiap perintah Allah. Qur'an menyatakan:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَّهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ.ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

"(Dan orang-orang yang kafir) dari kalangan penduduk Mekah; lafal ayat ini berkedudukan menjadi Mubtada, sedangkan Khabarnya, niscaya mereka celaka. Pengertian ini disimpulkan dari firman selanjutnya yaitu (maka kecelakaanlah bagi mereka) yakni kebinasaan dan kekecewaanlah yang akan mereka terima dari Allah (dan Allah menyesatkan amal perbuatan mereka) lafal ayat ini diathafkan pada Ta'isuu yang keberadaannya diperkirakan. (Yang demikian itu) kecelakaan dan penyesatan itu (adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah) yakni Alquran yang diturunkan-Nya, di dalamnya terkandung masalah-masalah taklif atau kewajiban-kewajiban (lalu Allah menghapuskan pahala amal-amal mereka.) "[6] 
 
Kufrul-Istihzaa: Ketidakpercayaan karena olok-olok dan ejekan. Qur'an menyatakan: "

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُواقَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

(Dan jika) Lam bermakna qasam/sumpah (kamu tanyakan kepada mereka) tentang ejekan-ejekan mereka terhadap dirimu dan terhadap Alquran, padahal mereka berangkat bersamamu ke Tabuk (tentulah mereka akan menjawab)mengemukakan alasannya ("Sesungguhnya kami hanyalah bersenda-gurau dan bermain-main saja") dalam ucapan kami guna melenyapkan rasa bosan dalam menempuh perjalanan yang jauh ini, dan kami tidak bermaksud apa-apa selain daripada itu (Katakanlah)kepada mereka! ("Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok?"). (Tidak usah kalian meminta maaf) akan hal tersebut (karena kalian kafir sesudah beriman) artinya kekafiran kalian ini tampak sesudah kalian menampakkan keimanan. (Jika Kami memaafkan) bila dibaca memakai ya berarti menjadi mabni maf'ul sehingga bacaannya menjadi ya'fa. Jika dibaca memakai huruf nun, berarti mabni fa'il, dan bacaannya seperti yang tertera pada ayat (segolongan daripada kalian) lantaran keikhlasan dan tobatnya, seperti apa yang dilakukan oleh Jahsy bin Humair (niscaya Kami akan mengazab) dapat dibaca tu`adzdzib dan dapat pula dibaca nu`adzdzib (golongan yang lain disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa) yakni, karena mereka selalu menetapi kemunafikannya dan selalu melancarkan ejekan-ejekan. "[7] 
 
Kufrul-I'raadh: Ketidakpercayaan karena menghindari. Ini berlaku kepada orang-orang yang berpaling menghindari kebenaran. Qur'an menyatakan:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ ۚ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۖ وَإِن تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ فَلَن يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا

"(Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Rabbnya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya) apa yang telah diperbuatnya berupa kekafiran dan kedurhakaan. (Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka) penutup-penutup (hingga mereka tidak memahaminya) maksudnya, supaya mereka tidak dapat memahami Alquran, dengan demikian maka mereka tidak dapat memahaminya (dan di telinga mereka Kami letakkan sumbatan pula) yakni penyumbat sehingga mereka tidak dapat mendengarkannya (dan kendati pun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk) disebabkan adanya penutup dan sumbatan tadi (selama-lamanya).."[8] 
 
Kufrul-Istibdaal: Ketidakpercayaan karena mencoba mengganti Hukum Allah. Ini dapat berbentuk: 
 
(a) Menolak Hukum Allah (Syariah) tanpa menyangkalnya,
(b) menyangkal Hukum Allah dan karena itu menolaknya, atau
(c) Mengganti Hukum Allah dengan hukum "buatan" (misal. hukum non-Muslim).
Qur'an menyatakan:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن يُدْخِلُ مَن يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ ۚ وَالظَّالِمُونَ مَا لَهُم مِّن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

"(Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat) artinya memeluk satu agama, yaitu agama Islam (tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang lalim) yaitu orang-orang kafir (tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong) yang dapat menolak azab Allah dari diri mereka. "[9] 
 
Qur'an mengatakan:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

"(Dan janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidah kalian) yang sering digambarkan oleh lisan kalian (secara dusta, "Ini halal dan ini haram.") terhadap apa yang tidak dihalalkan oleh Allah dan apa yang tidak diharamkan oleh-Nya (untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah) dengan menisbatkan hal itu kepada-Nya. (Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung). " [10] 
 
1. "'Tafsir Ibnu Katsir".
2. "Surah Qaaf (50), Ayah 24".
3. Surah Nahl (16), Ayah 83
4. Surah Naml (27), Ayah 14
5. Surah An Nisaa (4), Ayah 145]
6. Surah Muhammad (47), Ayah 8-9
7. Surah Taubah (9), Ayah 65-66
8. Surah Kahf (18), Ayah 57]
9. Surah Shuraa(42), Ayah 8
10. Surah Nahl (16), Ayah 116

Tidak ada komentar:

Posting Komentar