Kamis, 23 Juni 2016

Orang-orang yang Berkata ‘Kami Akan Membetulkan Masalah Riba Ketika Khilafah Tegak’

Oleh Shaykh Umar Ibrahim Vadillo 
Ada beberapa orang yang ketika diminta untuk ‘menggunakan Dinar Emas’ mereka berkata ‘kami akan menggunakan Dinar ketika sistim politik menjadi sepenuhnya Islam’ atau ketika Khalifa datang’ atau ungkapan yang seperti itu. Mereka salah dan tetap melakukan kesalahan membuat mereka menjadi kaki tangan dalam menurunnya nilai moneter yang merusak dari uang kertas yang dibuat oleh bank. Kenyataannya, inilah ‘riba baru perbankan’ yang menyebabkan hancurnya Kekhalifahan. Anda dapat membaca lebih banyak mengenai paradigma "riba baru" di sini: http://umarvadillo.wordpress.com/2013/10/19/muamalaat-the-alternative-to-the-riba-system-exists/
 
Apa keadaan sulit mereka? Mereka berfikir riba adalah gejala dan bukan penyebab masalah. Tetapi mereka sekali lagi salah. Riba adalah masalah, riba adalah kejahatan. Perintah untuk menghapuskan Riba tidak memiliki pra-syarat apapun. Seperti setiap perintah lain. Dengan berkata ‘saya tidak akan memakan makanan halal sampai berdirinya Khilafah’, benar-benar tak masuk akal. 
Membenarkan Sikaf Pasif
 
Alasan seperti itu, dalam pengalaman saya, adalah pembenaran sikap pasif dan menutupi sikap pasif (atau kedunguan) dari orang-orang yang secara salah mengambil mereka sebagai pedoman. Cukup cantumkan, tidak seorangpun dalam lingkungan pergaulan modernis, artinya, mayoritas ulama sekarang, yang paham bahwa ‘Riba dan uang kertas adalah isu yang sama.’ Bagaimana saya tahu bahwa tidak seorangpun? Karena sayalah yang pertama di generasi saya yang mengedepankan persoalan Dinar Emas. Mempercayakan kepada orang-orang yang mendukung secara diam-diam atau secara terbuka uang fiat adalah tempat beristirahat yang bodoh untuk menemukan kenyamanan di dalam kebodohan orang lain. Bahkan jika mungkin bagi mereka untuk tidur di malam hari, tetap hidup dalam kedunguan bukanlah tempat bersembunyi.
Kasus Hizbut-Tahrir
 
Mereka membela Khilafah. Kami juga. Kami memerangi Riba dengan memperkenalkan Dinar emas dan Dirham perak sekarang. Tetapi ketika kami mengundang mereka untuk bergabung mereka berkata ‘nanti, ketika Khilafah sudah tegak’. Saya merasa senang bertemu mereka dalam lebih dari satu kesempatan. Itulah yang mereka katakan setiap kali bertemu. 
Pertama, kepemimpinan sekarang dan masa lalu dari Hizbut-Tahrir tidak tahu dan mereka masih tidak tahu mengenai apa itu uang dalam Islam. Saya membawa persoalan Dinar emas untuk mereka perhatikan, dan hanya beberapa tahun lalu pertama kalinya mereka mengeluarkan pernyataan resmi mengenai Dinar Emas. Pernyataan resmi mereka tersedia di internet. Pernyataan mereka adalah potongan-potongan yang disusun dengan buruk dari posisi orang lain mengenai mata uang yang tujuannya mempertahankan ‘teori standar emas’. Standar emas bukanlah cara kita. Tetapi mereka tidak mengetahui perbedaannya. Pernyataan itu hanya menunjukkan bahwa mereka tidak pernah memahami isunya. 
Berkata bahwa kami hanya membawa persoalan Dinar emas ketika Khilafah berdiri menandakan adanya masalah yang jauh lebih parah yakni apa yang mereka maksud dengan Khilafah dan apa yang kita maksud dengan Khilafah adalah dua hal yang berbeda. Apa perbedaannya? Perbedaannya adalah mereka menyebutnya ‘Negara Islam’. Mereka menerjemahkan Daulah sebagai Negara, artinya menempatkan kejadian pada waktu yang salah. Itulah omong kosong khas modernis/reformis. 
Kedua, bagi mereka Negara membuat Hukum menjadi aktif (Hukum tidak dapat diterapkan sampai pembentukan Negara), bagi kita Allah yang membuat Hukum menjadi aktif. Itulah sebabnya mereka menunggu berdirinya Negara Islam. Kita tidak: Allah sudah menyatakan bahwa Riba adalah Haram, dan kewajiban saya adalah di sini dan sekarang. Terus menggunakan sistim riba dan uang fiat adalah memenuhi permintaan musuh Allah. Kepemimpinan Hizbut-Tahrir salah mengenai masalah ini (sementara mereka benar mengenai hal yang lainnya) dan mereka harus berubah. Saya-sebagaimana selalu- siap melayani mereka jika mereka menginginkan penjelasan lebih lanjut mengenai persoalan ini. Untuk memahami isu negara lebih dalam, bacalah ini: Definisi "Negara".
 
Kita semua berkata 'Riba adalah Haram' 
Tidak seorangpun Muslim yang akan menyangkalnya. Tetapi masalahnya berbeda. Masalahnya adalah 'apa yang kau lakukan mengenai itu?'. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

(Hai orang-orang yang beriman mengapa kalian mengatakan) sewaktu kalian meminta berjihad (apa yang tidak kalian perbuat) karena ternyata kalian mengalami kekalahan atau mundur dalam perang Uhud.

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

(Amat besar) yakni besar sekali (kebencian) lafal maqtan berfungsi menjadi tamyiz (di sisi Allah bahwa kalian mengatakan) lafal an taquuluu menjadi fa'il dari lafal kabura (apa-apa yang tiada kalian kerjakan). (Qur’an: 61:2-3) 
Kita akan diadili untuk apa yang kita lakukan. Dan hasil dari apa yang kita lakukan adalah milik Allah. Kita harus berjuang untuk menghapuskan Riba dengan niat yang ikhlash. Kita tidak bisa puas dengan berkata ‘saya tahu itu haram’. Jika mereka berkata 'persoalan Riba tidak dapat diselesaikan', katakan pada mereka, bahwa Allah telah menyatakan perang atas Riba dan itu artinya Riba telah dihancurkan. Kita hanya memerangi hantu yang tidak memiliki kekuatan. Riba adalah reruntuhan dan telah terbukti menjadi bencana bagi alam dan umat manusia. Semua yang harus kita lakukan adalah Yakin kepada Allah dan bertindak dengan keikhlasan.
Apa yang dapat Anda lakukan?
 
Bergabunglah dengan jaringan dan tim kami. Dapatkan Dinar emas dan Dirham perak di www.wakalanusantara.com . Undanglah toko di sekitar Anda untuk menerima koin syariah dan daftarkan lokasinya di www.dinarshops.com. Belilah koin dan gunakan. Dan jangan sampai gagal menyebut nama Allah setiap kali Anda menggunakannya. Pelajari tentang Muamalat. Berkumpullah dengan orang-orang yang bertindak. Allah adalah Pembimbing kita. Dan Kemenangan milik Allah. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar